Teknik Menunda Kehamilan

April 25, 2008

Di Indonesia Masih tinggi jumlah pasangan muda yang menikah termasuk juga di Aceh, kelompok muda masih dalam periode usia pertumbuhan yang tentunya masih sangat membutuhkan energi untuk pertumbuhan otot dan tulangnya, maka alangkah elok bila mereka menunda dulu untuk hamil, sehingga punya waktu cukup memikirkan mempersiapkan rumah tangga yang baik sampai usia atau waktu tepat bagi mereka siap baik secara mental maupun usia reproduksi sehat untuk hamil.

Ada beberapa macam alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan bagi kelompok ibu muda dan kelompok ibu selama dalam kurun usia reproduksi yang aman untuk digunakan. Pengertian aman alat kontrasepsi adalah alat/bahan yang digunakan baik oleh istri maupun sang suami, adalah aman bila dipakai, sangat rendah risiko komplikasi dan cepat kembalinya masa bila kesuburan alat tersebut dihentikan. Saat ini masih banyak para ibu untuk menunda usia kehamilan menggunakan alat kontrasepsi tanpa mengetahui dengan jelas sifat dari obat/bahan kontrasepsi yang dipakai dan beberapa pengaruhnya yang kadang membuat seseorang kurang nyaman . Karena pengaruh perubahan tersebut kadang dia terkejut dan minta alat tersebut dibuka kembali padahal baru dipasang beberapa waktu. Pada beberapa kasus pasangan muda malah menggunakan alat kontrasepsi yang berisiko mereka sulit subur kembali dan badan menjadi gemuk sehingga menjadi bumerang bagi mereka dan keluarga.

Alat Kontrasepsi bagi pasangan muda menunda kehamilan

1.Alat kontrasepsi sederhana,

Sistim kalender dengan menunda melakukan hubungan suami istri saat masa subur yaitu saat ovulasi terjadi yang biasanya terjadi seminggu setelah haid bersih, teknik senggama terputus juga sangat aman untuk digunakan atau menggunakan alat kontrasepsi mekanik seperti kondom. Memang upaya penundaan usia kehamilan teknik sederhana kemungkinan kegagalan lebih besar bila dibandingkan beberapa teknik lainnya akan tetapi cara ini sangat praktis, murah dan aman. Untuk menghindari kemungkinan kegagalan teknik ini dengan cara proteksi ganda misal memakai kondom saat melakukan hubungan bagi kelompok yang menggunakan sistim kalender maupun senggama terputus, sehingga memberikan keberhasilan yang tinggi.

2. Alat kontrasepsi Hormonal

Kontrasepsi hormonal bisa dalam bentuk suntikan, susuk maupun pil oral, malah akhir-akhir ini telah ada alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) yang menggunakan hormon progesteron untuk mengurangi efek risiko perdarahan, akan tetapi harga relatif mahal. Sangat dianjurkan mereka memakai pil kontrasepsi yakni pil kombinasi yang mengandung estrogen dan progesteron atau suntikannya yang satu bulan. Pemakaian suntikan 3 bulan tidak dianjurkan karena berisiko sang ibu haid tidak teratur, haid ibu tidak datang, dan kemungkinan sang ibu menjadi gemuk kerena pengaruh hormonal. Masalah yang sangat krusial lainnya dari pemakaian suntikan 3 bulan(depo provera) berupa lamanya masa pulih subur bila seorang ibu memakai suntikan 3 bulan, membutuhkan setahun untuk kembali subur.

3.Alat Kontrasepsi mekanik

alat ini tidak dianjurkan karena ditakutkan risiko infeksi sekunder, bisa akibat proses pemasangan maupun infeksi menaik lainnya. Bila ini terjadi maka akan menjadi bumerang bagi kelompok pasangan muda sehingga akan membutuhkan biaya yang banyak andaikan risiko terjadi kelak,untuk pengobatan kesuburannya.

Bagi Kelompok Usia reproduksi (20-45 tahun)

Menunda kehamilan bagi kelompok ini banyak pilihan tersedia baik itu, teknik sederhana tablet, suntikan, susuk, alat kontrasepsi dalam rahim dan kontrasepsi permanen dengan operasi mini dengan menghambat bertemu sel telur dan sperma. Alat kontrasepsi(KB) sederhana seperti, sistim pantang berkala, senggama terputus dan kondom baik untuk wanita maupun pria, bisa digunakan untuk kelompok ini.

Alat kontrasepsi dalam rahim(AKDR) aman digunakan dan menjadi pilihan bagi kelompok ini, karena alat ini sangat aman digunakan, haid seseorang umumnya normal, tersedia dalam sediaan 3 tahun dan 8 tahun, relatif murah dan kontrol alat ini sangat mudah mulai cara sederhana, dengan melihat benang yang biasa dilakukan bidan, malah bila ibu tak ada keluhan selama pemasangan cukup dengan pemeriksaan sonografi di dokter kandungan. Periode kontrol alat ini cukup praktis, yakni sebulan pasca pemasangan, dilanjutkan 3 bulan kemudian dan rutin sekali setiap 6 bulan sesuai yang dianjurkan badan kesehatan dunia (WHO). Kontrol bisa lebih cepat bila ada sesuatu yang tidak lazim misal nyeri sekali pasca pemasangan, dan terjadi perdarahan banyak.

Alat Kontrasepsi ini juga sangat praktis bila ingin dibuka dengan menarik benangnya yang lazim dilakukan saat jelang haid bersih supaya ibu tidak merasakan sakit. Komplikasi yang sering dikeluhkan dari pemakaian alat ini berupa nyeri perut akibat kontaraksi rahim sebagai reaksi respon rahim dengan adanya benda asing sehingga prostaglandin dilepaskan oleh sel endometrium tubuh yang biasanya diatasi dengan obat anti prostaglandin atau analgetik. Keluhan lain bisa berupa memanjangnya haid yang diatasi dengan pemberian obat hormonal. Semua keluhan ini biasanya terjadi dalam 3 bulan pertama pasca pemasangan.

Alat kontrasepsi hormonal seperti tablet baik mengandung hormon progesteron saja yang dikenal dengan pil menyusui maupun kombinasi hormon estrogen aman digunakan, selain itu bisa juga dalam bentuk suntikan baik itu suntikan sebulan sekali maupun suntikan 3 bulan. Selain itu bisa juga dipakai sediaan susuk akan tetapi butuh biaya yang relatif banyak dan tempat pemasangan khusus.Masalah yang sering dihadapi ibu dengan pemakaian KB 3 bulan dan susuk adalah kemungkinan haid tidak datang dan ibu menjadi gemuk. Perlu dingat pemakaian kontrasepsi hormonal perlu pengawasan khusus bagi kelompok ibu usia diatas 40 tahun.

Bagi kelompok yang telah mempunyai anak cukup dan tidak ingin hamil lagi sebaiknya memilih alat yang lama masa kerjanya, bahkan dianjurkan untuk bisa memakai teknik permanen dengan operasi mini yang dilakukan saat haid bersih.

Sudah saatnya kelompok pengguna alat menunda kehamilan tahu pilihan KB yang digunakan dan segala risiko yang terjadi, dan menentukan pilihan adalah hal preogatif sang pasangan, selain itu petugas pemberi pelayanan baik itu bidan, dokter maupun dr ahli kandungan harus menjelaskan detail segala sesuatu tentang alat tersebut sehingga mereka benar-benar merasa aman dan dapat merencanakan dengan baik masa depannya. [a]

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: